Pages

Thursday, March 24

Touch My Heart #2

Bismillahirrahmanirrahim.


Pada semester pertama perkuliahan saya di Indonesia, saya ditakdirkan untuk tinggal berempat bersama tiga orang lagi housemates saya di sebuah kosan berdekatan uni kami. Atas sebab beberapa masalah tertentu, kami sepakat untuk berpindah ke kosan lain dan makanya bermulalah episod mencari rumah baru yang bersesuaian dengan kehendak kami. Dan di sini lah titik di mana Allah menuliskan takdir untuk saya bertemu dengan seorang insan bermakna yang saya langsung jatuh sayang pada pertemuan pertama kami.

Petang itu, saya bersama dengan Iqa ronda-ronda petang dengan speda kami dengan tujuan ingin mencari kosan yang available statusnya. Lalu kami termasuk ke dalam satu gang (istilah untuk lorong yang lebih kecil) dan bertemu dengan seorang perempuan muda di hadapan rumahnya. Lantas kami bertanya apakah ada kosan yang available di sepanjang gang tersebut lalu perempuan itu langsung mengajak kami masuk ke dalam rumahnya, kerana menurutnya di lantai atas rumah majikannya itu terdapat dua kamar kosong untuk disewa. Ternyata perempuan muda itu adalah orang gaji di rumah tersebut. Rumah itu kecil saja, dan di bahagian depan rumah itu adalah kedai runcit kecil milik tuan rumahnya. Lalu kami pun masuk untuk bertemu dengan tuan rumah tersebut dan rupanya orang tersebut adalah seorang wanita tua manis yang berusia dalam lingkungan 80-an. Nenek tersebut menyapa dan menyambut kami dengan begitu baik, lalu membawa kami ke lantai atas untuk menunjukkan kamar kosong tersebut.

Kami naik ke atas sambil berbual-bual dengan nenek tersebut yang lebih dikenali dengan panggilan Ibu Haji oleh orang di kawasan kejiranan mereka. Tidak dinafikan, kondisi kamar tersebut tidaklah terlalu dhaif namun tidak juga terlalu selesa. Lantainya bilik seluas 3 X 3 meter tersebut diperbuat daripada kayu sahaja yang sangat berbeza lah dengan kondisi kosan yang kami sedang sewa pada masa itu. Setelah ditanya-tanya, bilik yang disewakan di rumah nenek ini cuma 400k rupiah sahaja. Dimana purata rerata untuk sewa bilik di kawasan itu adalah sekitar 700-800k rupiah per bulan termasuk juga bil air dan elektrik. 'Murah sangat ni' monolog hati saya sendiri. Namun kerana jumlah kami adalah 4 orang dan kamar cuma ada 2 serta melihat beberapa kondisi kamar tersebut, saya dan Iqa sepakat ini bukan rumah yang kami cari. Jadi sebelum kami berangkat pulang, nenek mempelawa kami untuk duduk minum-minum dahulu sebelum pulang. Atas dasar kesopanan dan kerana menghormati orang tua, kami turutkan sahaja meski kami masih harus meneruskan pencarian kosan. 

Alhamdulillah, persetujuan kami untuk duduk minum-minum itu adalah satu keputusan yangg akan saya syukuri sampai bila-bila.

Ibu Haji adalah ibu kepada 6 orang anak. 2 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Semuanya sudah bernikah dan bekerja. Ibu berusia 81 tahun, dan baru saja kematian suaminya beberapa tahun yang lalu. Dia tinggal berdua dengan orang gajinya. Wajahnya putih bersih dengan nur indah terpancar dari wajah manisnya yang suka sekali tersenyum. Wataknya terserlah sungguh keibuan dan penyayangnya, tangannya suka menyentuh dan membelai lembut bahu dan tangan saya dan Iqa saat bicara, dan apa yang saya paling ingat, perkataan 'alhamdulillah' tidak pernah lekang dari bibirnya. Saat itu ibu bercerita, bahwa dulu saat beliau masih muda, beliau adalah seorang wanita yang tidak lah tergolong dalam kategori wanita yang baik. Beliau tidak berhijab dan mengaku agamanya hanya Islam pada KTP (Kartu Tanda Penduduk). Namun ibu berkata, "adalah satu nikmat yang besar kurniaan Allah pada ibu dengan mengurniakan jodoh seorang suami yang soleh pada ibu. Suami ibu adalah seorang kiai (ustaz) yang masyaAllah sungguh baik hatinya dan agamanya. Dia lah yang membimbing ibu kembali mengenali dan mengamalkan Islam. Alhamdulillah sekarang ibu bisa sholat dan membaca al-quran. Alhamdulillah ya Allah kerana aturanMu yang sungguh indah." Basahnya kata-kata yang ikhlas datang dari hati yang dekat dengan Allah. Sebak rasa bila mendengar tutur kata, yang jelas terdengar betapa ibu mencintai suaminya dan merasa suaminya adalah kurniaan Allah yang terhebat  dalam hidupnya. Sweet sangat. Ibu perwatakannya sangat lucu, walaupun sudah mencecah 80-an. Banyak lagi kata nasihat dan pesan darinya, supaya jangan pernah tinggal solat, aurat dijaga, hafallah surah-surah seperti Al-Mulk, As-Sajadah, Al-Waqiah, dan Ar-Rahman. Dan berulang kali beliau berpesan, untuk tidak berpacaran dan berdoalah dari sekarang semoga Allah memberikan kita jodoh yang soleh. Ibu sehingga menadah tangan dan membaca Al-Fatihah disusuli berdoa dengan nada yang kuat untuk kami semoga kami dikurniakan jodoh yang seperti suaminya. Aww, comel sangat ibu. Amin atas doanya ya ibu. Semoga diri sendiri bisa jadi solehah terlebih dahulu. 


Begitulah pertemuan kami berakhir, dengan meninggalkan satu rasa sayang yang menggunung dalam hati saya pada seorang insan yang pertama kali saya bersua.

******************************************************************

Setahun berlalu, saya tidak pernah berkesempatan untuk menziarahi ibu lagi, cuma sekali saya pernah mengirim buah-buahan pada cucu ibu yang bermain di depan rumahnya saat ibu tiada di rumah. Sampai lah suatu hari, dengan ditemani Cullen saat sedang membeli buah-buahan di pasar, terdetik dalam hati untuk pergi menziarah ibu. Betullah juga apa orang kata, apa yang kita plan selalu tak jadi, apa yang kita buat spontan tanpa plan, itulah yang jadi. Pokoknya, jangan plan. Hehe. Alhamdulillah petang itu saya diberi kesempatan lagi untuk bertemu dengan ibu walaupun apabila bertemu, ibu sama sekali tidak ingat pada saya. Mungkin atas faktor usianya, mungkin juga kerana sudah lama sekali saya tidak bertamu. Tapi ibu sangat-sangat menghargai kedatangan saya dan Cullen petang itu, langsung diajak duduk dan berbual, persis seperti pertama kali saya datang dahulu. Namun yang mengejutkan, pendengaran ibu tidak lagi seperti dahulu. Beliau sudah tidak bisa mendengar dengan baik lagi, dan kami harus mengeraskan suara sedikit supaya ibu bisa dengar apa yang kami ingin sampaikan. Terkadang kami perlu menggunakan bahasa isyarat tangan untuk berbual dengan ibu. 

Melihatkan sedikit ketidaknyambungan perbualan kami di situ, ibu lantas mulai bercerita (supaya jadi one-way communication). Beberapa bulan yang lalu, anaknya telah membelikan alat bantu dengar (ABD) yang bernilai 9 juta rupiah yang bersamaan dengan RM3000 supaya ibu bisa mendengar dengan normal kembali. Ibu berkata bahwa beliau sangat bersyukur kerana dikurniakan anak yang baik-baik dan tidak kedekut dengan dirinya. Namun kerana ABD tersebut tidak kalis air, maka setiap kali tiba waktu solat dan mau mengambil wuduk, ibu harus mencabut terlebih dahulu ABD tersebut. Sampailah satu hari di mana ibu terlupa untuk mencabut ABD itu saat ibu mengambil wuduk, makanya ABD itu tidak lagi dapat berfungsi seperti biasa. Jelas terdengar kekesalan pada nada suaranya berkenaan dengan kelupaannya.. Dan kerana ABD tersebut adalah satu hadiah daripada anak-anak yang bukanlah murah harganya di samping ibu tidak mau anaknya sedih, ibu bersama dengan orang gajinya yang setia telah pergi ke kedai elektronik tanpa pengetahuan siapapun dengan niat mau membaiki ABD tersebut. Namun tidak disangka kos yang diperlukan untuk membaiki ABD tersebut adalah sebanyak 4 juta rupiah (bersamaan kurang lebih RM1200) dan jumlah itu adalah di luar kemampuan ibu sendiri melainkan ibu harus meminta bantuan dari anaknya.

Sakin tidak mau menyusahkan anaknya lagi, ibu memilih untuk merahsiakan hal ini dari anaknya. Cukuplah duit anaknya dihabiskan untuk membeli ABD tersebut untuknya, ibu tidak mau lagi menyusahkan anaknya untuk membaikinya pula. "Ibu kan sudah tua, tidak dengar dan bisa ngobrol seperti dulu lagi kan juga gak apa-apa." Justeru setiap kali anaknya pulang menziarahinya, ibu masih memakai alat tersebut dan berpura-pura bahwa ibu masih bisa mendengar dengan baik, makanya dia selalu memilih untuk duduk di dalam biliknya saja saat anaknya pulang, agar mereka tidak tahu hal sebenar, meskipun ibu tahu mereka tidak akan pernah memarahi ibu atas kerusakan alat itu.

Huhu, sedihnya dengar, namun sangat kagum dengan ibu dan anak-anaknya. Solehahnya ibu dan Allah mengurniakan anak yang soleh dan solehah juga buat dirinya. Baiknya ibu sampai dikurniakan anak-anak yang juga baik-baik. "Alhamdulillah ibu dikurniakan anak yang baik-baik, tidak pelit dan sayang dengan ibu, alhamdulillah ya Allah...." Hm, ibu, semoga Allah sentiasa merahmatimu. Semoga juga saya dan kami semua bisa jadi anak yang baik dan taat pada ibu bapa saat tua mereka menjelang, dan juga bisa menjadi sosok ibu yang hebat kepada anak-anak kami kelak. Aamiin.


*********************************************************

2016. Dua tahun telah berlalu sejak pertemuan pertama saya dengan Ibu Haji. 

Di saat saya sedang diuji dengan perasaan sendiri dan ujian manusia, Allah menjentik-jentik hati saya untuk mencari sesuatu yang bisa mengisi jiwa, dan saya langsung teringat lagi pada ibu. 

Benar, kadang-kadang saat kita dalam satu-satu masalah dan perlukan consultation or someone to talk to, kita lebih senang untuk mecari orang yang jauh dengan kita yang jelasnya kita tahu jauhnya mereka akan menyebabkan kita tidak merasa seperti di-judge dengan pertimbangan manusia. Terkadang kata-kata yang spontan keluar dari mulut-mulut mereka walau mereka tidak lah tau hal sebenar yang sedang berlaku pada kita, itulah yang paling menyentuh hati dan menyebakkan. Kerana pada dasarnya saya yakin, setiap ilham kata dari mulut-mulut mereka semua, adalah daripada Allah SWT sendiri, yang mau menyampaikan setiap tarbiyah dan kasihNya kepada saya melalui orang-orang di sekeliling saya.

Alhamdulillah.

Saya berspeda menuju ke rumah ibu dengan dua jenis buah-buahan di dalam bakul speda, kali ini bersama dengan Ainei. Saya membawa hati ibarat cawan yang kosong, yang siap diisi dengan apapun tarbiyah yang Allah ingin sampaikan melalui sosok seorang ibu yang amat saya kagumi. Sampai di gang tersebut, rumah ibu sepi sekali, pintu ditutup dan lampu tidak dipasang. Sedikit hampa saya memikirkan tidak lagi berkesempatan untuk bertemu ibu pada hari itu di samping tidak lah berpeluang saya kenalkan ibu kepada Ainei. Saat kami sudah memutuskan untuk pergi, tiba-tiba pintu dibuka, dan orang gaji ibu menyambut kami. Alhamdulillah happynya rasa. Perempuan muda itu berkata ibu baru siap mandi dan lagi solat dan langsung menjemput kami masuk, persis seperti biasanya, dia sangat menyambut baik kedatangan tetamu-tetamu.

Tidak lama kemudian, ibu keluar. Melihat wajah dan senyumnya, langsung saya jadi sebak, hilang rinduku pada sosok ini. Ibu kelihatan sudah makin uzur dari fizikalnya, dan pendengarannya juga semakin tidak baik sehingga kali ini saya harus bersuara keras di tepi telinga ibu untuk berbicara dengannya dan itupun kadang ibu masih tidak bisa menangkap butir kata yang ingin disampaikan. Namun, ibu masih ibu, lucunya ya masih lucu. Disuruh orang gajinya menjamu kami dengan pelbagai makanan dan minuman, disuruh makan dan makan, malah dibungkus pula telur dan jajan-jajan dari kedai runcit kecilnya untuk kami bawa pulang. Hehe ibu. "Alhamdulillah ya kamu masih ingat pada ibu. Syukur ya Allah" kata ibu berulang-ulang kali sambil menadah tangannya setiap kali mengucapkan perkataan Alhamdulillah.

Dan ibu seperti biasanya, suka mengagumnkan saya dengan kata-katanya,

"Solat harus jadi nomor satu ya, harus! Jangan pernah tinggalkan solat. Aurat kamu dijaga, dipakai selalu jilbabnya, belajar yang benar, jangan mengecewakan orang tua yang jauh di rumah yang susah-susah cari uang buat belanja keluarga. Dulu ibu, susah sekali mau membesarkan 6 orang anak. Namun Alhamdulillah puji tuhan sekarang sudah nyaman dan anak-anak ibu baik-baik semuanya. Tidak ada satu pun yang lupa pada ibu. Alhamdulillah ya Allah, alhamdulillah.." Diulang-ulang kalimat kesyukuran itu dengan nada yang sungguh ikhlas. Diam sedetik dua, ibu menambah kata,

"Dan kalau kamu mencintai, jangan terlalu cinta, kerana pada akhirnya, Allah juga yang menentukan." Ringkas dan padat.

Rapuhnya hati saat itu, setiap kata ibu ibarat satu activator bagi kelenjar lacrimal saya yang terus menerus bekerja dan terus menerus ingin mengeluarkan cecairan walaupun ditahan. Kata dari hati kepada hati, kata ringkas tapi bermakna, kata yang tepat pada tempatnya. 

Alhamdulillah...

******************************************

"Nanti kalau kamu tunjuk gambar ibu bersama kamu ini kepada kenalanmu, apa ya yang kamu mau bilang tentang ibu?" Tanyanya lembut sambil memegang lembut bahu saya.

Saya tersenyum saja. Tak tahulah kenapa emosi sore itu sensitif sekali. Mau ngomong juga sudah rasa sebak. Ah, ibu, banyak yang saya ingin katakan pada semua orang tentang ibu, banyak yang saya ingin bicarakan pada ibu, tapi kata hanya tinggal kata, yang tinggal cuma senyuman kecil di bibir saya saat sang palpebra inferior bekerja keras menahan supaya tiada apa yang keluar darinya.

"Semoga ya, kamu bilang kepada mereka, ibu di dalam foto ini, adalah orang yang baik. Semoga itu bisa jadi penolong ibu di depan tuhan nanti."

"Pasti ibu, pasti." 

Dari atas: Ibu dengan Iqa (1), dengan Cullen (2), dengan Ainei (3,4)


Suka dengan setiap perasaan yang ada dalam hati setiap kali bertemu dengan ibu. Terasa positiviti disedut sepenuhnya oleh saya pabila melihat sosok yang sangat izzah dengan agamanya, yang dari setiap kata dan tingkahnya menunjukkan pribadi Islam yang sejati. Nak jadi macam ibu, huhu. I am very blessed to meet the owner of a very wise and beautiful soul. Alhamdulillah ya rabbi for this beautiful fate that You planned for me. Looking forward for our next meeting. Semoga Allah memanjangkan umur saya dan juga ibu supaya bisa saya bertemu ibu lagi, insyaallah amin. 


May Allah grant ibu with khusnul khatimah and Jannah, amin ya rabbal alamin. (tolong aminkan ye makasih)